KUNINGANSHOT.COM – Bokor Kuning merupakan salah satu simbol paling bersejarah dan menjadi identitas Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bentuknya yang menyerupai wadah atau bokor dari logam kuningan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan kisah yang berkaitan dengan asal-usul nama Kuningan dan perjalanan berdirinya pemerintahan daerah.
Menurut sejarawan Edi S. Ekadjati, sejarah Bokor Kuning berkembang dalam dua versi utama. Versi pertama berasal dari legenda Ciung Wanara pada masa Kerajaan Galuh. Dalam kisah tersebut, sebuah bokor kuningan digunakan oleh Raja Galuh untuk menguji kemampuan seorang pendeta bernama Ajar Sukaresi. Sementara versi kedua berasal dari Babad Cirebon dan tradisi lisan masyarakat Kuningan. Pada kisah ini, bokor kuningan digunakan sebagai sarana untuk menguji keluhuran ilmu dan kebijaksanaan Sunan Gunung Jati.
Walaupun kisah Bokor Kuning belum memiliki bukti sejarah tertulis yang lengkap dan masih digolongkan sebagai babad peteng atau sejarah yang belum sepenuhnya terang, keberadaannya tetap memiliki makna filosofis yang kuat. Bokor Kuning melambangkan kehormatan, kebijaksanaan, keluhuran budi, dan kepemimpinan, nilai-nilai yang diwariskan kepada masyarakat Kuningan dari generasi ke generasi.
Dalam simbol resmi Kabupaten Kuningan, Bokor Kuning juga memiliki makna penting sebagai lambang kelahiran Arya Kamuning (Sang Adipati Kuningan) pada 1 April 1498 serta menjadi simbol berdirinya Pemerintah Kabupaten Kuningan pada 1 September 1498. Hingga kini, replika Bokor Kuning dapat dijumpai di beberapa titik, seperti Bundaran Cijoho, sebagai pengingat akan sejarah dan jati diri Kabupaten Kuningan.
Sebagai warisan budaya, Bokor Kuning bukan sekadar benda bersejarah, melainkan simbol yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga persatuan, kebijaksanaan, dan semangat membangun daerah. Nilai-nilai tersebut menjadikan Bokor Kuning tetap relevan sebagai ikon kebanggaan Kabupaten Kuningan hingga saat ini.

Komentar
Posting Komentar